Depresi Pasca Melahirkan (Postpartum) -->

ads

Depresi Pasca Melahirkan (Postpartum)

Friday, 14 August 2020

Dunia Sehat - pasca melahirkan adalah kondisi ketika perasaan sedih, putus asa, cemas, dan sejenisnya muncul lebih berat dari baby blues. Keadaan ini dialami oleh 1 dari 7 wanita yang melahirkan. Berbeda dari baby blues, depresi (postpartum) pasca melahirkan tidak dapat hilang sendiri.


Perbedaan depresi (postpartum) pasca melahirkan dengan baby blues

Baby blues adalah kondisi ketika 2 hingga 3 hari setelah melahirkan (biasanya berlangsung tidak lebih dari 2 minggu setelah melahirkan) seorang ibu mengalami perasaan seperti sedih, merasa tidak mampu mengasuh bayi, cemas, marah, dan sejenisnya. Keadaan ini dialami oleh 80% wanita yang melahirkan.


Gejala atau tanda depresi (postpartum) pasca melahirkan

Gejala atau tanda depresi (postpartum) pasca melahirkan biasanya lebih berat dari baby blues dan mempengaruhi kemampuan dalam menjalankan aktivitas diri sehari-hari dan kemampuan dalam mengasuh bayi. Gejala ini biasa muncul kurang lebih 1 hingga 3 minggu setelah melahirkan dan dapat bertahan hingga 1 tahun setelah melahirkan.


Ada perbedaan antara gejala baby blues dengan gejala depresi (postpartum) pasca melahirkan:

Gejala baby blues:

Sedih.

Cemas.

Sulit tidur.

Tidak bahagia.

Tidak nafsu makan.

Sulit berkonsentrasi.

Mudah marah atau menangis.

Emosi naik turun (mood swing).

Merasa tidak mampu mengurus bayi.


Gejala depresi (postpartum) pasca melahirkan:

Sering marah.

Mood depresi.

Tidak dapat beristirahat.

Menangis terus menerus.

Emosi naik turun yang berat.

Menjauh dari keluarga dan teman.

Keletihan yang berat atau tidak bertenaga.

Tidak dapat menjalin ikatan dengan bayi.

Tidak dapat tidur atau insomnia terlalu sering.

Merasa tidak ada harapan, tidak berdaya.

Berpikir ingin melukai diri sendiri dan bayi.

Sering berpikir untuk bunuh diri atau ingin mati.

Tidak dapat berpikir jernih atau membuat keputusan.

Kehilangan nafsu makan lebih berat dari biasanya.

Tidak tertarik pada aktivitas yang biasanya disukai.

Cemas yang berat dan sering mengalami serangan panik.

Merasa tidak berharga, malu, merasa bersalah, merasa tidak mampu.


Perlu dibedakan pula antara depresi (postpartum) pasca melahirkan dengan psikosis pasca melahirkan. Psikosis adalah suatu kondisi kejiwaan ketika ada pemikiran yang tidak sejalan dengan realitas yang ada (tidak wajar). Gejala psikosis pasca melahirkan cukup berat.


Gejala psikosis antara lain:

Paranoia.

Gangguan tidur.

Halusinasi, delusi.

Pikiran obsesif terhadap bayi.

Energi yang berlebihan dan agitasi.

Bingung terhadap tempat dan waktu.

Berusaha melukai diri sendiri dan bayi.


Psikosis pasca melahirkan dapat menjurus ke perilaku dan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan bayi dan memerlukan penanganan segera.

Penyebab depresi (postpartum) pasca melahirkan

Depresi (postpartum) pasca melahirkan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

Perubahan kadar hormon. Sesaat setelah Anda melahirkan, hormon estrogen dan progesteron menurun secara drastis. Keadaan ini dapat memicu depresi dan mood yang naik turun.


Emosional. Jika kehamilan Anda merupakan kehamilan yang tidak direncanakan atau tidak diinginkan, maka akan sulit untuk Anda menerima keadaan bahwa Anda akan memiliki bayi dengan segala kesibukan yang akan mengikutinya. Jika Anda sakit dan memerlukan perawatan lebih panjang di rumah sakit, hal tersebut juga dapat memicu perasaan marah, sedih, dan tak berdaya. Hal ini juga dapat mempengaruhi kemampuan Anda dalam menangani stres pasca melahirkan.


Keletihan. Setelah melahirkan, wanita akan merasa letih dan baru akan kembali pulih beberapa minggu setelah melahirkan, apalagi ditambah dengan hadirnya bayi yang masih menyesuaikan diri dengan jam tidur dan menyusu. Bagi wanita dengan metode melahirkan dengan operasi sesar, rasa letih atau pemulihan dapat memakan waktu lebih lama.




Beberapa faktor risiko terjadinya depresi (postpartum) pasca melahirkan antara lain:


Tekanan finansial.

Kelahiran anak kembar.

Kelahiran anak pertama.

Kesulitan dalam menyusui.

Riwayat depresi sebelumnya.

Bayi mengalami kelainan atau sakit tertentu.

Usia yang terlalu muda atau terlalu tua saat hamil.

Riwayat keluarga dengan depresi ataupun gangguan bipolar.

Kurangnya dukungan dari orang sekitar (ayah, ibu, saudara, suami, dan lainnya).


Adanya kejadian duka atau kejadian yang berat sebelumnya, misalnya adanya kematian anggota keluarga dekat, kecelakaan, dan lain sebagainya.


Diagnosis depresi (postpartum) pasca melahirkan

Diagnosis depresi (postpartum) pasca melahirkan dilakukan dengan melihat gejala-gejala yang timbul. Dokter akan berbincang dengan Anda mengenai gejala Anda. Anda tidak perlu malu untuk menceritakannya dengan jujur kepada dokter Anda. Dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan fungsi tiroid untuk melihat apakah adanya kemungkinan hal tersebut dikarenakan oleh fungsi tiroid yang tidak seimbang. Dokter akan melakukan pemeriksaan terkait lainnya jika dirasa dibutuhkan.


Cara mengobati depresi (postpartum) pasca melahirkan

Pengobatan depresi (postpartum) pasca melahirkan dilakukan dengan memberikan obat antidepresan dan psikoterapi. Sebaiknya Anda berobat dan kontrol secara teratur hingga Anda dinyatakan sembuh.


Berapa lama waktu untuk sembuh dari depresi (postpartum) pasca melahirkan?

Waktu sembuh orang dengan depresi (postpartum) pasca melahirkan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, tergantung masing-masing orang, dukungan keluarga, dan lain sebagainya. Dengan dukungan keluarga yang baik disertai keteraturan berobat, maka kesembuhan dapat lebih cepat terjadi.




Bisakah depresi (postpartum) pasca melahirkan disembuhkan?

Ya, depresi (postpartum) pasca melahirkan dapat disembuhkan.


Cara mencegah depresi (postpartum) pasca melahirkan

Ada beberapa tips dan cara mencegah depresi (postpartum) pasca melahirkan, yaitu:


Kontrol ke dokter spesialis kandungan berkala saat hamil. Dokter Anda akan membantu Anda untuk menangani kondisi depresi bahkan saat hamil sehingga dapat mengantisipasi kejadian depresi (postpartum) pasca melahirkan dengan lebih baik Kontrol kembali ke dokter spesialis kandungan setelah melahirkan.


Dukungan dari keluarga. Kerjasama dari keluarga (suami, orang tua) dalam membantu ibu pasca melahirkan dapat sangat membantu mengurangi keletihan dan kecemasannya. Dengan membantu memasak, membersihkan rumah, membantu mengurus bayi selain menyusui akan sangat membantu ibu untuk mendapatkan istirahat yang cukup.

Persiapan kebutuhan bayi dan ibu pasca melahirkan yang baik. Dengan banyak membaca dan mendengar cerita dari para ibu pasca melahirkan dan masalah yang sering dihadapi dan cara menyelesaikannya membuat ibu lebih siap menghadapi tantangan pasca melahirkan.


Cara merawat pasien depresi (postpartum) pasca melahirkan di rumah

Merawat pasien dengan depresi (postpartum) pasca melahirkan memerlukan pengawasan yang cukup baik, terutama jika ada niatan untuk melukai diri sendiri atau bayi. Sebaiknya ibu tidak ditinggalkan sendirian. Bantulah ibu dalam melakukan aktivitas sehari-hari, terutama dalam merawat bayi. Motivasi dan dukungan akan mempercepat penyembuhan ibu yang mengalami depresi.