SISTEM LAKRIMAL -->

ads

SISTEM LAKRIMAL

Tuesday, 26 January 2016

Anatomi Aparatus Lakrimalis
 
Aparatus atau sistem lakrimalis terdiri dari aparatus sekretori dan aparatus ekskretori (Kanski et al, 2011; Sullivan et al, 2004; AAO, 2007), yaitu :
1. Aparatus Sekretorius Lakrimalis.
      Aparatus sekretorius lakrimalis terdiri dari kelenjar lakrimal utama, kelenjar lakrimal assesoris (kelenjar Krausse dan Wolfring), glandula sebasea palpebra (kelenjar Meibom), dan sel-sel goblet dari konjungtiva (musin). Sistem sekresi terdiri dari sekresi basal dan refleks sekresi. Sekresi basal adalah sekresi air mata tanpa ada stimulus dari luar sedangkan refleks sekresi terjadi hanya bila ada rangsangan eksternal (Kanski et al, 2011; Sullivan et al, 2004; AAO, 2007)
.
2. Aparatus Ekskretorius Lakrimalis.
      Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan sesuai dengan kecepatan penguapannya sehingga hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi (Sullivan, 2004). Dari punkta, ekskresi air mata akan masuk ke kanalikulus kemudian bermuara di sakus lakrimalis melalui ampula. Pada 90% orang, kanalikulus superior dan inferior akan bergabung menjadi kanalikulus komunis sebeum ditampung dalam sakus lakrimalis. Di kanalikulus, terdapat katup Rosenmuller yang berfungsi untuk mencegah aliran balik air mata. Setelah ditampung di sakus lakrimalis, air mata akan diekskresikan melalui duktus nasolakrimalis sepanjang 12-18 mm ke bagian akhir di meatus inferior.


II.    Fisiologi
 
a.    Dinamika Sekresi Air Mata
      Laju pengeluaran air mata dengan fluorofotometri sekitar 3,4 μL/menit pada orang normal dan 2,8 μL/menit pada penderita mata kering (Eter et al, 2002). Sedangkan menurut Nichols (2004), laju pengeluaran air mata adalah 3,8 μL/menit dengan interferometri. Antara dua interval berkedip, terjadi 1-2 % evaporasi, menyebabkan penipisan 0,1 μm PTF dan 20% pertambahan osmolaritas (On et al, 2006).
      Distribusi volume air mata pada permukaan okular umumnya sekitar 6-7 μL yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni (Sullivan, 2002) :
1. Mengisi sakus konjungtiva sebanyak 3-4 μL.
2. Melalui proses berkedip sebanyak 1 μL akan membentuk TF dengan tebal 6-10 μm dan luas 260 mm².
3. Sisanya sebanyak 2-3 μL akan membentuk tear meniscus seluas 29 mm² dengan jari-jari 0,24 mm (Yokoi et al, 2004). Menurut Wang et al (2006), TF digabungkan dari tear meniscus atas dan bawah saat berkedip.
       Ketebalan TF bersifat iregular pada permukaan okular sehingga tidak ada ketebalan yang tepat untuk ukuran TF (Wang et al, 2006). Menurut Smith et al (2000) ketebalan berkisar antara 7-10 μm sedangkan Pyrdal et al (1992) menyatakan TF seharusnya memiliki ketebalan 35-40 μm dan mayoritas terdiri dari gel musin.
      Menurut Palakuru et al (2007), TF berada dalam keadaan paling tebal saat segera setelah mengedip dan berada dalam keadaan paling tipis saat kelopak mata terbuka. Dalam penelitian mereka, angka perubahan ketebalan ini menunjukkan nilai yang sama dengan kelompok yang disuruh melambatkan kedipan matanya. Mereka menyimpulkan hal ini disebabkan oleh refleks berair yang segera.

b.    Mekanisme Distribusi Air Mata
      Mengedip berperan dalam produksi, distribusi dan drainase air mata (Palakuru et al, 2007). Berbagai macam teori mengenai mekanisme distribusi air mata (AAO, 2007). Menurut teori Doane (1980), setiap berkedip, palpebra menutup mirip retsleting dan menyebarkan air mata mulai dari lateral. Air mata yang berlebih memenuhi sakus konjungtiva kemudian bergerak ke medial untuk memasuki sistem ekskresi (Kanski et al, 2011; Sullivan et al, 2004). Sewaktu kelopak mata mulai membuka, aparatus ekskretori sudah terisi air mata dari kedipan mata sebelumnya. Saat kelopak mata atas turun, punkta akan ikut menyempit dan oklusi punkta akan terjadi setelah kelopak mata atas telah turun setengah bagian . Kontraksi otot orbikularis okuli untuk menutup sempurna kelopak mata akan menimbulkan tekanan menekan dan mendorong seluruh air mata melewati kanalikuli, sakus lakrimalis, duktus nasolakrimalis dan meatus inferior. Kanalikuli akan memendek dan menyempit serta sakus lakrimalis dan duktus nasolakrimalis akan tampak seperti memeras. Kemudian setelah dua per tiga bagian kelopak mata akan berangsur-angsur terbuka, punkta yang teroklusi akan melebar. Fase pengisian akan berlangsung sampai kelopak mata terbuka seluruhnya dan siklus terulang kembali (Doane, 1980). TF dibentuk kembali dari kedipan mata setiap 3-6 detik. Saat kelopak mata terbuka, lapisan lemak ikut terangkat.

c.    Mekanisme Ekskresi Air Mata
       Menurut Vaughan (2010), system ekskresi  terdiri dari punctum, kanalikuli, saccus lakrimalis, dan ductus nasolakrimal. Dengan berkedip, setiap kelopak mata mendekat mulai dari lateral, mendistribusikan air mata secara merata di seluruh kornea,dan mengalir ke system ekskresi pada aspek medial palpebra. Ketika air mata membanjiri kantung konjungtiva, mereka memasuki puncta secara parsial oleh daya tarik kapiler. Dengan penutupan kelopak mata, otot orbicularis pretarsal sekitar ampula berkontraksi. Secara bersamaan, kelopak mata ditarik menuju crista lakrimalis posterior dan traksi ditempatkan pada fasia sekitar saccus lakrimal, menyebabkan kanalikuli memendek dan menciptakan tekanan negative didalam saccus lakrimal. Pemompaan dinamis ini menarik air mata ke dalam saccus lakrimal yang kemudian melewati gravitasi dan elastisitas jaringan melalui ductus nasolakrimal ke dalam meatus inferior hidung.