Trauma Tumpul Abdominal -->

ads

Trauma Tumpul Abdominal

Saturday, 16 January 2016



Penentuan Splenectomy pada Cedera Lien yang disertai oleh Trauma Tumpul Abdominal

Ringkasan

Introduction/Pendahuluan
Penanganan cedera lien telah beralih dari splenectomy pada pencegahan splenic yang disebabkan oleh resiko yang sangat besar dari post splenectomy infection (OPSI). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan dilakukannya splenectomy pada pasien-pasien dengan cedera lien terisolasi, dengan maksud untuk meningkatkan laju pencegahan splenic.

Patients and methods
Sebanyak 55 pasien dengan cedera lien terisolasi dari trauma tumpul abdomen antara tahun 1998 sampai dengan 2007 dianalisis dengan menggunakan pro forma. Klasifikasi manajemen dikelompokkan menjadi non operative, operative salvage dan splenectomy.

Results/Hasil
Mayoritas pasien yang menderita cedera lien yang diakibatkan oleh kecelakaan sepeda motor mengalami trauma atau terjatuh. Kelompok splenectomy terjadi pada 33 pasien (60%), non operative management sebanyak 12 pasien (22%) dan operative salvage sebanyak 10 paseien (18%). Faktor penentu splenectomy yang dominan antara lain grade cedera lien, hirarki bedah, dan hirarki assistants.

Discussion/Diskusi
Cedera akibat kecelakaan sepeda motor terhitung sebagai jumlah mayoritas trauma tumpul abdomen pada penelitian ini. Laju dan sejumlah besar energi yang ditransfer vs mekanisme pencegahan splenic pada saat trauma tumpul abdomen diketahui/terlihat menentukan tingkat cedera lien. Ketertarikan pada splenic salvage injury, kemampuan teknologi yang mampu menangani splenic salvage injury, dan pengalaman bedah dan kehadiran assistant menentukan manajemen pembedahan.

Conclusion/Kesimpulan
Peraturan tentang keamanan berkendara dan kontrol orang tua yang baik akan memungkinkan mengurangi cedera lien pada trauma tumpul abdomen. Ketika terindikasi operasi, salvage surgery harus dipertimbangkan dalam isolated splenic injury untuk mengurangi post splenectomy infection (OPSI).

ISI JURNAL

Spleen adalah organ yang paling sering terluka saat terjadi trauma tumpul abdomen. Manajemen/penanganan cedera lien umumnya dilakukan dengan cara splenectomy, yang objek nya adalah mengontrol perdarahan (haemorrhage). Dengan pengetahuan yang lebih baik di bidang fungsi immunologi pada lien, dan peran lien dalam memperjelas enkapsulasi organisme dari aliran darah, vaksinasi pasca operasi, dan penggunaan propilatic antimicrobial untuk melawan organisme enkapsulasi telah menjadi mandate pada semua pasien splenectomi untuk mencegah efek OPSI. Untuk meminimalisasi kebutuhan vaksinasi dan resiko OPSI, manajemen cedera lien beralih dari splenectomy ke pencegahan pada era 1980an. Pendekatan pada metode pencegahan splenic meliputi metode konservatif non operasi, angiographic embolisasi dan operasi salvage. Pada masyarakat kita, pasien dengan trauma tumpul abdomen masih ditangani dengan operasi, dengan tingkat operative splenic salvage  rendah. Terlebih lagi, mayoritas pasien gagal mengikuti pengobatan klinis lanjutan dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut, membuat OPSI sulit ditentukan, dan penggunaan vaksinasi post-splenectomy dan pemberian antibiotik sulit untuk teridentifikasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan splenectomy pada pasien-pasien dengan luka splenik terisolasi dari trauma tumpul abdomen pada masyarakat kita, dengan maksud untuk meningkatkan pencegahan splenic.

Patients and methods

Penelitian yang kami lakukan adalah penelitian deskriptif retrospektif berbasis rumah sakit dari cedera trauma tumpul abdomen didiagnosis dan dinilai dengan abdomino-pelvic ultrasound antara tahun 1998 s.d 2007 di unit bedah RS Wesley Guild, Ilesa, yang memiliki sebuah Obafemi Awolowo University Teaching Hospital Complex (OAUTHC), Ile-Ife, Nigeria. RS melayani kesehatan untuk sekte Ekiti, Ilesa dan kota sekitarnya. Usia pasien, jenis kelamin, mekanisme luka, denyut jantung, dan tekanan darah pada saat presentasi, selama mengalami luka, sebelum presentasi dilakukan, dan sebelum operasi dilakukan, volume packed cell pada saat presentasi, sebelum transfuse operasi, di dalam transfuse operasi, sejumlah haemoperitoneum pada pasien yang akan dioperasi, tingkat splenic injury (menggunakan organ luka splenik dengan system beskala), waktu operasi, hirarki operasi, asisten operasi, dan perlakuan yang akan diterima, dimasukkan dalam desain pro forma pada penelitian ini.
Perlakuan yang akan dilakukan diklasifikasikan pada non operasi, operasi salvage, dan splenectomy. Perlakuan non operasi dilakukan pada pasien dengan kebutuhan pasca resusitasi haemodynamic stabil dan peningkatan serial abdominal ultrasound, bagi pasien yang tidak memenuhi kriteria ini, ditawarkan metode operasi. Pasien yang tidak sesuai data tidak diikutkan pada penelitian ini.
Analisis statistic yang digunakan dengan program SPSS 15, menggunakan statistic deskriptif dan regresi linier dengan tingkat signifikansi pada p>0,05.
Hasil.
Ada sebanyak 55 pasien yang memenuhi criteria inklusi. Terdiri dari 36 laki-laki dan 19 orang perempuan, dengan rasio 1,9 : 1. Titik tengah usia mereka antara 14 tahun (3 sampai 60). Table I memperlihatkan mekanisme injury sehubungan dengan usia dalam beberapa dekade. Tingkat kelaziman pada cedera lien terisolasi di trauma tumpul abdomen menurun dengan kenaikan usia, dengan perbedaan pada mekanismenya. Cedera dan jatuh akibat kecelakaan kendaraan bermotor berkisar pada tingkat 50 pasien (91%). Pada 2 dekade pertama dalam hidup, trauma akibat kecelakaan kendaraan bermotor menyumbang sebesar 40% cedera lien, dan jatuh sebesar 49%. Semua cedera akibat jatuh dari ketinggian meningkat pada dua dekade pertama. Antara dekade 3 dan 6, trauma akibat kecelakaan kendaraan bermotor disumbang oleh 95% luka, dan sisanya karena jatuh atau kasus penyerangan.

DISKUSI

Hasil kerja dari ahli bedah pediatrik terdahulu sejak 30 tahun yang lalu menetapkan bahwa cedera lien dapat ditangani dengan metode non operasi. Meskipun struktur Paediatric lien pada anak berbeda dengan dewasa, pendekatan yang sama telah diadopsi dalam kasus paediatric splan trauma dewasa. Kemajuan medis telah memungkinkan tidak hanya penggambaran yang akurat dari tingkat cidera, tetapi juga intervensi therapeutic dalam bentuk angiography dan embolisation sebagai tambahan yang berguna pada mereka yang tidak menginginkan terapi non operasi.
Manajemen oparasi direncanakan untuk pasien yang tidak merespon pengobatan konserfatif atau angiography dan embolisation. Indikasi untuk meninggalkan metode konserfatif adalah ketidakstabilan hemodinamik dengan penurunan haematocrit atau kontak resisten yang memerah akibat angiography dan embolisation. Pada operasi penekanan pada splenic salvage dikarenakan resiko OPSI. Menyusul laporan pertama OPSI pada tahun 1952 beberapa review melaporkan kejadian 2,2 sampai 4,4 per tahun pada anak-anak dan kurang dari 1% untuk dewasa, dengan angka kematian sebesar 0,58%. Vaksinasi terhadap enkapsulasi organisme disarankan minimal 2 minggu sebelum splenektomi elective untuk mencegah OPSI. Namun, hal ini tidak praktis untuk splenektomi yang disertai trauma yang membuat vaksinasi pasca splenektomi wajib untuk semua pasien sebelum mereka keluar dari rumah sakit dengan revaksinasi setiap 5 sampai 10 tahun dan dengan penambahan antibiotik prophylaxis untuk mengkompensasi vaksinasi yang jarang didokumentasikan. Selain itu, antiobiotik prophylaxis direkomendasikan pada kehamilan ketika vaksinasi pneumococcal vaksinasi lebih baik dihindari sampai melahirkan.
Efektifitas vaksinasi terbatas pada anak-anak tetapi dibutuhkan antibiotik prophylaxis karena respon tumpul pada vaksin polisakarida akibatnya vaksinasi lengkap biasanya diberikan setelah mencapai usia 2 tahun. Pendidikan kesehatan setelah vaksinasi harus diberikan pada semua pasien splenectomy terkait resiko dan pentingnya diagnosis dan pengobatan infeksi dan kebutuhan untuk ketaatan pada anti malaria prophylaxis. Mereka juga penting untuk membawa kartu control. Akan tetapi di lingkungan kita mayoritas pasien pasca splenectomy gagal untuk mengikuti pengobatan klinis lanjutan yang membuat manajemen lebih lanjut pada pasien tersebut bermasalah. Untuk alasan ini setiap usaha harus dilakukan untuk splenic salvage.
Dalam penelitian kami, tingkat total splenektomi lebih tinggi di pasien yang menderita trauma akibat kecelakan sepeda motor dan jatuh dari ketinggian, sebagai akibat dari energi tinggi pada yang menyebabkan kerusakan fisiologis sehingga membutuhkan pembedahan. Sebaliknya, dampak energi rendah dapat mengakibatkan tingkat yang lebih tinggi dari pelestarian limpa pada pasien akibat mekanisme cedera yaitu olahraga. Besarnya energi yang diakibatkan pada saat cedera menentukan keparahan trauma limpa dan kebutuhan untuk splenektomi. Mayoritas pasien yang menderita cedera grade III, dan semua orang-orang dengan grade IV dan V, merupakan  kelompok yang diakibatkan oleh dampak energi tinggi. Dibutuhkan undang-undang keamanan kendaraan bermotor yang efektif; sementara kontrol dari orang tua yang baik akan membantu untuk mengurangi insiden cedera akibat jatuh, karena ini semua terjadi pada anak-anak <20 tahun.
Operasi penyelamatan lien harus dipertimbangkan pada mereka yang menderita cedera lien menengah, ketika kation-individu untuk operasi tidak merusak kontrol dalam haemodynami- Cally patients. tidak stabil ini diperlukan dalam ekonomi berkembang seperti kita, malaria endemik dan kasus sesekali demam tickbite, untuk mengurangi insiden dan keparahan malaria, OPSI dan infestasi lainnya posting splenektomi, sebagai mayoritas pasien hilang untuk menindaklanjuti atau gagal untuk menghadiri klinik tindak lanjut. Akibatnya, pasien ini tidak akan menerima vaksinasi yang tepat atau memiliki akses ke profilaksis antimikroba laktat.

Waktu intervensi operasi dalam review kami menunjukkan peningkatan dalam tingkat splenektomi waktu malam; ini mungkin disebabkan sejumlah faktor, misalnya mendukung kelelahan staf dari tugas siang hari sebelumnya, dan fakta bahwa sebagian besar operasi darurat pada malam hari dilakukan oleh ahli bedah junior yang mungkin belum terbiasa dengan teknik penyelamatan lien. Sebuah analisis regresi linear untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu utama splenektomi di lingkungan kita menunjukkan tiga faktor penting: kelas cedera limpa, pengalaman dokter bedah, dan asisten pengalaman.

Meskipun salah satu harapkan kelas cedera limpa akan ditentukan oleh kekuatan dampak, mekanisme cedera bukan faktor signifikan secara statistik dalam penelitian kami. Kegagalan fitur pelindung limpa seperti efek airbag dari perut medial, lobus inferior paru kiri superior, dan usus besar melintang inferior, bisa menjadi alasan. Selain itu, kegagalan efek seatbelt penahan dari diafragma pada KASIH liga- phrenicolienal dan gastrolienal, memegang limpa dinding tubuh pada saat dampak, dapat mempengaruhi limpa ke tinggi perlambatan atau percepatan tekanan. Tingkat respon dari mekanisme pelindung dan kecepatan cedera sebagian besar dapat menentukan derajat trauma limpa.

Sementara nilai yang lebih tinggi dari cedera bisa dikaitkan dengan ketidakstabilan hemodinamik dari kehilangan darah, tanda-tanda vital dan volume sel dikemas pada presentasi tidak penentu yang signifikan dalam penelitian kami, yang setuju dengan temuan oleh Potoka dkk. di USA.9 yang Ada kebutuhan untuk mengevaluasi lebih lanjut temuan ini dengan cara studi prospektif.
Peran ahli bedah dan asisten ahli bedah dapat dipengaruhi oleh kepentingan mereka dan pengalaman dalam limpa operasi vage sal-, 15 ketersediaan bahan prostetik seperti mesh untuk operasi penyelamatan limpa, dan ketersediaan teknologi yang memfasilitasi operasi penyelamatan limpa , seperti coagulator argon beam atau laboratorium operatif intra kembali. faktor-faktor seperti menjamin penilaian lebih lanjut dengan studi prospektif.

Meskipun tantangan utama untuk seorang ahli bedah dan asistennya dalam operasi adalah untuk menyelamatkan nyawa , juga untuk menentukan prosedur operasi yang paling tepat yang paling cocok untuk masing-masing pasien . Risiko yang melekat pada upaya penyelamatan lien harus ditimbang terhadap bahaya mengenai terus berlanjutnya perdarahan dan kebutuhan untuk re - laparotomi dan transfusi darah lebih lanjut. Risiko OPSI atau penyakit lainnya , terutama dalam konteks Afrika , juga harus diingat . Tidak hanya strategi pencegahan trauma yang penting , tetapi juga pelatihan staf bedah junior di metode penyelamatan limpa .

kesimpulan
Kegagalan mekanisme pelindung lien , daripada mekanisme cedera , mungkin bertanggung jawab untuk kelas cedera limpa di trauma tumpul abdomen . Undang-undang keamanan kendaraan bermotor dan kontrol orangtua dapat berkontribusi untuk mengurangi penyebab perpindahan energi tinggi untuk lien akibat trauma tumpul abdomen . Operasi penyelamatan limpa harus dipertimbangkan untuk pasien yang mengalami cedera limpa terisolasi menengah, ketika indikasi untuk operasi tidak merusak kontrol pada hemodinamik pasien tidak stabil . Oleh karena itu ahli bedah junior perlu mengerti dengan teknik konservasi limpa , yang diperlukan di negara berkembang seperti kita , untuk mengurangi timbulnya OPSI , dan meminimalkan tingkat keparahan malaria dan tick-borne penyakit , mengingat fakta bahwa mayoritas pasien gagal menghadiri klinik tindak lanjut .